Meriam Kuno Kiamuk

Meriam Kuno Kiamuk

Mendengar kata Banten, bayangan kita mengarah pada keberadaan debus yang sudah melegenda. Akan tetapi, jika kita jalan-jalan ke Banten, tidak ada salahnya kita berwisata ke tempat yang mengandung peninggalan masa silam. Pilihan yang tepat adalah kita berwisata ke Kota Kuno Banten Lama. Kota Kuno Banten Lama merupakan situs yang merupakan sisa kejayaan Kerajaan Banten. Dari Kota Jakarta kita bisa menempuh ke Kota Kuno Banten Lama kurang lebih 2 jam perjalanan. Di Kota Kumo Banten Lama, kita akan menemukan banyak Situs peninggalan dari Kerajaan Banten, diantaranya, Istana Surosoan, Masjid Agung Banten, Situs Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu, Vihara Avalokitesvara.

Semua tempat wisata tersebut mencapai kejayaan pada masanya. Hal itulah yang menyebabkan sejak tahun 1995, Kota Kuno Banten telah diusulkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia.

Dari sekian banyak situs peninggalan Kerajaan Banten, yang paling menarik adalah keberadaan Meriam Ki Amuk. Peninggalan bersejarah ini berada di kawasan Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama yang mempunyai luas tanah kurang lebih 10.000 m2 dan bangunan kurang lebih 778 m2. Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama dibangun dengan gaya arsitektur tradisional Jawa Barat seperti yang terlihat pada bentuk atapnya. Museum yang terletak antara Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten Lama ini menyimpan banyak benda-benda purbakala.

Dilihat dari bentuk bangunannya Museum Situs Kepurbakalaan lebih mirip seperti sebuah rumah yang kemudian dialihfungsikan menjadi museum. Meriam Ki Amuk merupakan meriam yang terbuat dari tembaga dengan panjang sekitar 2,5 meter. Dari cerita, Meriam Ki Amuk merupakan hasil rampasan dari tentara Portugis yang berhasil dikalahkan. Konon Meriam Ki Amuk memiliki kembaran yaitu Meriam Ki Jagur yang saat ini tersimpan di halaman belakang Museum Fatahillah Jakarta.

Meriam Ki Amuk semula terletak di Pelabuhan Karangantu dan sempat ditempatkan tenggara alun-alun. Pada meriam tersebut terdapat tiga buah prasasti berbentuk lingkaran dengan huruf dan Bahasa Arab yang bertuliskan “Akibatulkhoir salamatn Iman” yang mengandung arti “Kesuksesan puncak adalah keselamatan iman.” Dan terdapat tulisan La Fataa ila ‘ali, La sifaa ila zulfikar, Ashbir ala taqwa dahran yang mengandung arti “Tiada jawara kecuali ‘ali, tiada golok kecuali zulfikar, bersabarlah dalam taqwa sepanjang masa..”. Guna memudahkan membawa meriam, dibuatkanlah gelang-gelang disebelah kiri dan kanannya.
Kehebatan Meriam Ki Amuk dalam pertemuran melawan penjajah menjadi pembicaraan hangat hingga sekarang. Sehingga banyak warga yang mengansumsikan bahwa Meriam Ki Amuk mempunyai kekuatan gaib. Ketika Meriam Ki Amuk diletakan di pelabuhan Karangantu, banyak warga yang menjalankan ritual-ritual seperti melempar koin, atau memeluk moncongya. Konon kalau pergelangan tanganya bisa bertemu maka orang tersebut akan kaya. Perilaku warga yang dianggap “aneh” tersebut masih terjadi hingga sekarang, meskipun keberadaan Meriam Ki Amuk sudah diberi pagar pelindung. Namun, yang terpenting adalah, kita bisa belajar tentang masa silam sejarah kejayaan Kerajaan Banten.

Komentar