Museum Rudana

Museum Rudana

      Satu lagi tempat wisata di Ubud Bali yang wajib dikunjungi yaitu Museum Rudana Fine Art Gallery yang beralamat di Jl. Cok Rai Pudak 44, Ubud, Bali. Museum Rudana dibangun dengan konsep dan paradigma komprehensif, Tri Hita Karana, menggabungkan ruang, lingkungan, dan struktur spasial sehingga menyuguhkan sebuah sajian museum yang unik dan berkarakter. Dengan menempati sebuah gedung yang dirancang secara khusus, sehingga mampu menggabungkan filsafat profan (suci) dengan nilai-nilai seni.

      Museum Rudana Fine Art Galeri didirikan untuk memamerkan dan mempromosikan hasil karya seni, terutama lukisan dan patung. Kebanyakan karya seni yang dipamerkan adalah buah karya seniman lokal Bali, seperti Igusti Nyoman Lempad, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, dll. Sementara itu, hasil karya seni dari luar Bali diantaranya buah karya Affandi, Basuki Abdullah, Srisuhardi Soedarsono, Sunaryo Sutono, dan beberapa karya seniman asing yang tingggal di Bali, seperti Antonio Blanco dan Arie Smit. Nama Museum Rudana diambil dari nama seorang tokoh pendirinya, yaitu Nyoman Rudana yang berprofesi sebagai kolektor lukisan sekaligus pemilik Rudana Fine Art Galleri dan Genta Fine Art Gallery.

      Sejarah Berdirinya Museum Rudana

      Museum Rudana dibangun dalam kerangka idealisme sang pendiri, Nyoman Rudana, yang mengusung konsep Tri Hita Karana, dimana seni berperan dalam proses hubungan manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan manusia (Pawongan), serta manusia dengan alam (Palemahan). Oleh karena itulah, seni dianggap memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan perdamaian, kemakmuran, dan persaudaraan. Nyoman Rudana meletakkan landasan visi humanismenya pada Museum Rudana, yaitu untuk kemaslahatan umat manusia.

      Ide pendirian museum diperoleh Nyoman Rudana saat ia menyaksikan realitas bahawa banyak karya seni Indonesia kuno yang dibawa ke luar negeri. Karena itulah, hati nuraninya tergerak untuk melestarikan hasil karya seni anak bangsa, dan kemudian digagaslah pendirian Museum Rudana.

      Museum Rudana didirikan di kompleks Rudana Fine Art Gallery dengan luas bangunan 500 meter persegi, terdiri dari tiga lantai, dan berarsitektur khas Bali. Peletakan batu pertama pembangunan museum dilakukan pada tanggal 22 Desember 1990, dan dibuka untuk umum pada tanggal 11 Agustus 1995. Namun peresmian museum tersebut baru dilaksanakan pada tanggal 26 Desember 1995, dengan ditandatanganinya prasasti museum oleh Presiden Suharto. Sebagaimana fungsi museum-museum lain, Museum Rudana juga berfungsi untuk menyimpan benda-benda bernilai untuk menyajikan informasi dan menambah pengetahuan bagi masyarakat.

      Konsep bangunan memang sengaja dibangun tiga lantai yang mengacu pada konsep
Triangga, yaitu tiga bagian utama tubuh manusia, yang terdiri dari kepala, badan, serta anggota gerak. Tri Mandalla, tiga pembagian halaman, terdiri dari jeroan, jaba tengah dan jaba sisi. Tri Loka, tiga pembagian konsep alam semesta, terdiri dari bhur, bwah, dan swah.

      Gedung Museum Rudana Ubud Bali

      Keseluruhan konsep tersebut dihubungkan dengan pengembangan budaya dan karya seni di Bali dari masa ke masa. Konsep itu sendiri juga dihubungkan dengan proses regenerasi seniman, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seiring dengan perkembangan dunia seni rupa di Indonesia dan industri pariwisata di Bali khususnya, Museum Rudana menjadi salah satu tempat wisata favorit bagi wisatawan dari berbagai negara, termasuk wisatawan Indonesia. Oleh karena itualah Museum Rudana menempatkan diri sebagai high end museum. Hal ini terbukti dengan adanya kunjungan tamu-tamu VIP dari berbagai negara.

      Karya Seni Di Museum Rudana Ubud

      Tak hanya menampilkan hasil karya seni lukis, Museum Rudana juga memamerkan berbagai karya seni patung, baik hasil karya seniman Bali, Nusantara, maupun asing. Bagian atas menampilkan hasil karya seni lukis Bali klasik, sementara lantai tengah dan bawah digunakan untuk memamerkan hasil karya seni modern Indonesia. Museum Rudana juga memiliki koleksi karya pelukis asing yang tinggal di Bali, seperti Antonio Blanco (Spanyol), Yuri Gorbachev (Rusia), Jafar Islah (Kuwait), serta Iyama Tadayuki (Jepang). Saat ini Museum Rudana memiliki koleksi lebih dari 400 lukisan dan patung. Penataan karya seni tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan nilai-nilai estetika dan harmonisasi tata ruang, sehingga benar-benar menyuguhkan sebuah pajangan yang sangat enak dinikmati.

Komentar