Desa Julah

Desa Julah

      Desa Julah terletak 35 km sebelah timur kota Singaraja, tepatnya di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Desa ini menghubungkan antara desa Bondalem dan desa Pacung. Jika ingin mengunjungi desa tersebut, Anda naik kendaraan umum dengan biaya hanya berkisar Rp 15.000,00. Jika ditinjau lebih jauh, keadaan geografis secara umum hampir sama dengan desa di sebelahnya yang terdiri atas deretan warna hijau pepohonan dikala hujan dan daung meranggas dikala panas. Mungkin ini salah satu peristiwa geografi tahunan akibat adanya pemanasan global yang mendera. Tapi sebagian masyarakat disana mungkin menganggap hal ini sudah biasa dan bukan menjadi masalah besar yang akan mengganggu aktivitas.

      Walaupun keadaan geografis wilayah sedemikian rupa, tetapi semangat hidup terus mengalir deras di setiap susah, guna melanjutkan bahtera kehidupan yang tertekan akibat terpuruknya perekonomian desa. Secara umum semua masyarakat telah melaksanakan swadarma masing-masing, dan nilai pengangguran semakin berkurang tiap tahunnya. Karena budaya pengangguran adalah sebagai bahan perbincangan publik yang pada akhirnya akan menjadi tekanan batin tersendiri.

      Secara keseluruhan, kesederhanaan itu tampak pada pola hidup masyarakat di segala profesi yang ditekuninya. Dengan mengatasnamakan kata persatuan, sehingga kekuatan “Menyame Braya” tumbuh subur guna menjaga keharmonisan dalam hidup bermasyarakat sehingga tidak ada konflik sosial.

      Beranjak dari fenomena sosial masyarakat setempat, kita beralih ke cerita rakyat yang dimana hal itu digunakan sebagai cerita unik yang pastinya mengandung sebuah tetuah ataupun ajaran kemanusiaan yang sekiranya mampu menginspirasi atau memberi solusi terhadap permasalahan sosial dan acuan untuk bertindak. Mungkin ini seperti khayalan konyol di setiap bagian cerita karena memang sebagian besar itu hanya mitos dan kepercayaan fiksi.

      Salah satunya pembuatan sumur suci oleh Kebo Iwa yang menjadi nilai unik tersendiri. Di dua tempat yang berbeda dengan mengisahkan jejak kaki kanan dan bukit tak jadi, akibat adanya pro-kontra dari masyarakat atas hadiah bukit yang diberikan dari seseorang pinandhita suci itu, banyaknya kecenderungan negatif oleh masyarakat, jika bukit itu ada. Selain itu juga ada cerita magis adalah melis. Yang konon melis/melasti di desa Julah rute perjalanan adalah melis hingga ke Solo (Jawa Tengah).

      Yang menjadikan melis ini unik adalah masyarakat yang melakukan melis melewati jalur di dasar laut dengan menggunakan “Pecut Sakti” (sesuhunan) untuk membelah laut menjadi dua hingga menyisakan jalan setapak untuk menuju ke Pura suci yang ada di Solo, Jawa Tengah dan banyak cerita konyol lagi yang mungkin tidak bisa diterima dengan akal sehat. Tapi, yang jelas lagi yang mungkin di percaya kuat oleh masyarakat.

      Jika dilihat dari struktur pemerintahannya desa adat Julah mempunyai otonomi sendiri. Di bawah pimpinan seorang Kelian desa adat yang posisinya hampir sama dengan Jro Penyarikan. Hanya objek cakupannya yang berbeda atau bisa dikatakan bidang dalam dinasitinya berlainan.

      Penduduk desa Julah bersifat homogen dalam artian penduduk yang tinggal di daerah tersebut mayoritas beragama hindu. Bahkan tidak ada agama lain yang masuk. Konon jika ada orang yang beragama lain masuk atau tinggal di desa Julah akan merasa tidak nyaman atau sering diganggu sehingga lambat laun akan pergi sendirinya. Walaupun demikian dalam kenyataannya prilaku sehari-harinya, warga masyarakat setempat berperilaku sangat dinamis sehingga mereka mudah beradaptasi dengan lingkungannya.

      Selain itu pula dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari antar warganya tertanamkan satu benih kekuatan “Menyame Braye” yang tinggi. Sifat dinamis warga sekitarnya dapat diketahui dari prilaku kehidupan mereka sehari-harinya sehingga seolah-olah diantara warga setempat tidak ada celah pembeda antara satu warga dengan warga lainnya. Karena tidak melihat dari status warga yang mengikat seperti pada desa-desa lainnya.

      Secara umum, masyarakat desa Julah semuanya “Sudra” tidak ada satupun warga yang lebih tinggi dari sudra seperti Brahmana, Ksatria, Wesya. Hal ini bukan tidak ada keturunan, melainkan konon pada zaman dahulu kala masyarakat desa Julah sudah berjanji untuk menghapus yang namanya perbedaan termasuk juga sistem warga itu, karena selama diberlakukannya sistem warga ini masyarakat jauh dari keharmonisan dan menjalankan kekuasaan secara tidak adil. Maka untuk menghindari hal itu terjadi, masyarakat setempat menghapus sistem wangsa dan hingga sekarang hal itu masih lestari dan tidak ada satupun masyarakat yang berani mengatakan dirinya keturunan Brahmana atau yang lainnya. Apa sebabnya? Bukti sudah ada, konon dulu ada salah satu masyarakat yang mengatakan dirinya keturunan Brahmana dan dia melakukan persembahyangan dikawitan yang dibuatnya sendiri. Berjarak sekitar 3 bulan lamanya, salah satu warga itu pun mulai kesakitan atau dikutuk oleh yang niskale. Maka dibongkarlah kawitan itu. Lambat laun sakit itu hilang dia pun kembali ke jalan seharusnya.

      Dari cuplikan cerita di atas, menggambarkan kedekatan kehidupan alam sekale dan niskala sangat erat. Beranjak dari fenomena-fenomena itulah kepercayaan masyarakat atas niskala sangat tinggi. Bukan sebatas hal-hal yang sifatnya besar atau merusak persatuan seperti cinta daerah. Hal-hal yang kecil pun jika dianggap akan berurusan dengan yang niskala. Maka dari itu, kedisiplinan itu tumbuh kuat adanya dibenak disetiap warga.

      Hal ini cukup jelas, terlihat dari kepatuhan masyarakat dalam mentaati awig-awig adat sebagai motor atau acuan untuk bertindak. Mayoritas penduduk didesa Julah tunduk atas segala aturan yang tercantum dalam awig-awig, mengingat sanksi yang tegas dalam penerapannya secara langsung di masyarakat. Yang menjadi pembeda, bukan aparat desa yang menjalankan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan, melainkan yang niskala yang melakukan. Dan bentuknya pun bermacam-macam pada akhirnya orang dimaksud akan kesakitan. Langkah selanjutnya sanksi itu harus dibayar dalam bentuk yadnya, bukan dalam bentuk materi seperti pada sistem peraturan masyarakat desa yang ada di bali. Hal inilah yang menjadi daya tarik kami untuk membahas sub materi tentang awig-awig adat desa Julah.

      Keunikan pola sistem peraturan adat semacam ini sangat menarik untuk diamati dengan bukti-bukti kesejarahannya untuk kemudian ditarik suatu kesimpulan yang dianggap sebagai latar belakang pembentukan serta segala akibat yang ditimbulkan. Yang menyangkut segala aktivitas kehidupan warga masyarakat desa Julah yang bernaung dibawah kuasa awig-awig adat yang mengikat segala aspek kehidupan.

Komentar