Gedong Kertya

Gedong Kertya

      Gedong Kertya ?? Apa sih yang sobat pikirkan ketika mendengar kata tersebut ?? Tidak tahu atau sobat sudah pada tahu apa itu Gedong Kertya ?? Nih simak diskripsi singkat dan jelas, yang akan mengupas tuntas tentang Gedung Kertya dan pastinya disajikan dengan sangat menarik. Yuk simak ! :D

      Gedung/Gedong Kertya merupakan sebuah gedung yang bermakna “Mencoba” dalam Bahasa Sansakerta dan terletak di Jalan Veteran No 20 Kelurahan Paket Agung Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, Bali dengan ketinggian gedung yaitu 61 meter di atas permukaan laut. Gedong atau Gedung Kertya posisinya yaitu menghadap ke Utara dan terletak di sisi paling Barat merupakan satu kompleks dengan Museum Buleleng, PHDI, dan Sasana Budaya (istana tua Kerajaan Buleleng)

      Gedung Singaraja ini merupakan gedung yang digunakan sebagai situs cagar alam. Gedung ini memiliki 2 buah gapura yang masih utuh dan kuno serta terdapat juga angka tahun pembuatannya disetiap gapura tersebut. Tertulis angka 3 juni 1939 untuk gapura bagian luar dan 31 Mei 1933 untuk gapura bagian dalam.

     Gedung/Gedong Kertya adalah gedung yang bisa dikatakan sebagai perpustakaan satu-satunya di Indonesia bahkan di Dunia yang menyimpan begitu banyak kesusasteraan Bali, mantra, mitos, pengobatan, sastra religius dan beragam koleksi bersejarah lainnya sehingga gedung ini terkenal dengan sebutan rajanya perpustakaan lontar dunia.

      Perpustakaan Gedong Kertya ini awalnya sepi pengunjung, namun ketika masa Bupati Buleleng, Dr. Ketut Wirata Sindhu, Perpustakaan ini dikembangkan menjadi sebuah museum yang agung dan menarik sebagi tempat wisata sejarah sehingga kini Gedong Kertya Buleleng banyak dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun asing terutama yang tertarik dengan benda-benda bersejarah.

      Secara umum gedong/gedung ini menggunakan bahan batu, bata, semen, kayu, asbes, genteng, besi, dan kaca. Gedung Kirtya ini memiliki 7 buah bangunan yaitu 2 buah bangunan kuno dan 5 buah bangunan baru dengan posisinya memanjang dari Utara ke Selatan. 2 buah bangunan kuno tersebut yaitu di tempat penyimpanan Lontar dan satu gedung lainnya berfungsi sebagi gudang yang terdapat di belakang gedung. Sedangkan 5 buah banguan baru terdiri dari 3 buah perkantoran, 1 buah Balai Bengong, dan 1 buah toilet.

      Tempat penyimpanan Lontar yang jumlahnya sekitar 4.000 itu berada di sisi gedung yang paling Utara. Sedangkan pada bagian Timur, terdapat 3 buah jendela, 2 buah pintu dan pada bagian Utara, terdapat 1 buah jendelan dan 1 buah pintu. Di gedung bagian Barat terdapat 2 jendela, dan untuk gedung bagian Selatan terdapat 1 buah pintu dengan bahan dari besi.

      Sejarah berdirinya wisata sejarah Gedong Kertya tidak lepas dari peran seorang resident/perwakilan Pemerintah Belanda di Bali dan Lombok, L.J.J Caron. Pada tahun 1928 pada zaman penjajahan Belanda berdirilah Gedong Kirtya di Singaraja yang dulunya merupakan ibu Kota Sunda Kecil.

     Atas dasar minatnya yang besar terhadap Kebudayaan dan Tradisi di Bali, L.J.J Caron berinisiatif menyelenggarakan pertemuan di Kintamani ( kawasan Pegunungan Batur ) pada tanggal 2 Juni 1928 untuk memperingati jasa-jasa dua orang cendikiawan Belanda, F.A Lieffrinck dan Dr. H.N Van der Tuuk, yang telah mempelopori penyelidikan Kebudayaan, Adat Istiadat dan Bahasa di Bali. Sehingga diberikanlah sebuah yayasan ( Stichting ) yaitu tempat penyimpanan naskah ( Pusaka Rontal ) atau manuscript ( MSS ). Dengan demikian yayasan ini dapat dianggap sebagai miniatur Asitic Society untuk Daerah Bali dan Lombok karena institusi tersebut tidak hanya mencangkup lontar saja, melainkan juga dalam bagian-bagian yang meliputi Kehidupan dan Budaya terutama di Bali.

      Gedung atau yayasan peringatan tersebut diberi Nama Stichting Liefrinck Van der Tuuk oleh pihak Belanda, namun I Gusti Putu Jelantik, Raja Buleleng saat itu menyarankan untuk merubah namanya menjadi Sansakerta Bali Kirtya. “Kirtya” berakar dari kata “Kr”, menjadi “Krta” yang mengandung arti “usaha” atau “jerih payah” dalam Bahasa Sansekerta. Sebagai tindak lanjutnya, pada tanggal 14 September 1928 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda A.C/D. de Graff, membuka secara resmi sebuah perpustakaan pertama di Bali ini.

      Gedong Kritya berfungsi sebagai tempat penyelamatan dan pemeliharaan Kesusastraan Bali yang diwarisi secara turun menurun oleh masyarakat Bali, yang ditulis oleh nenek moyang kita pada Daun Lontar ( Daun Kelapa ). Naskah-naskah ini berupa kitab-kitab kuno ataupun yang baru dikarang (disusun) oleh seniman-seniman sastra khususnya dari Bali.

      Sehingga secara keseluruhan, di perpustakaan / museum Gedong Kirtya ini terdapat koleksi manuskrip Daun Lontar, prasasti, manuskrip kertas dalam Bahasa Bali dan Huruf Romawi termasuk dokumen-dokumen dari Zaman Kolonial Belanda (1901-1953).

Komentar