Makam Laksamana Malahayati

Makam Laksamana Malahayati

     Keumala Hayati atau yang lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati adalah seorang pejuang perempuan Aceh yang gagah berani melawan kolonial Belanda. Sejarah mencatat bahwa wanita tangguh tersebut merupakan pemimpin perempuan pertama di dunia dan ditakuti oleh musuh-musuhnya.

     Laksamana Malahayati dikenal dengann kemiliterannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang pada saat itu Kerajaan Aceh Darussalam di pimpin oleh pemerintaha Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV, beliau merupakan anak dari Laksamana Mahmudsyah. Jiwa kepemimpinan tersebut diturunkan oleh ayahnya sendiri yang merupakan seorang Laksamana pada waktu itu. Malahayati kecil sering diajak ayahnya pergi dengan kapal perang. Pengenalannya dengan kehidupan laut itu kelak membentuk sifatnya yang gagah berani dalam mengarungi laut luas.
 
      Selain berkedudukan sebagai Kepala Pengawal Istana, Malahayati juga seorang ahli politik yang mengatur diplomasi penting kerajaan. Dalam suatu peristiwa pada tanggal 21 Juni 1599, kerajaan kedatangan dua kapal Belanda, Deleeuwdan Deleeuwin dibawah pimpinan dua orang kapten kapal bersaudara, yaitu Cornelis dan Frederik de Houtman (Tim P3SKA, 1998:19). Maksud kedatangan mereka adalah untuk melakukan perjanjian dagang dan memberikan bantuan dengan meminjamkan dua kapal tersebut guna membawa pasukan Aceh untuk menaklukan Johor pada tanggal 11 September 1599.
 
     Peminjaman kapal tersebut ternyata merupakan bentuk tipu muslihat Belanda, karena ketika para prajurit kerajaan menaiki kapal, kedua kapten kapal tersebut melarangnya sehingga terjadilah bentrokan yang tak terhindarkan. Dalam peristiwa itu banyak dari pihak Belanda tewas, kedua kaptennya ditangkap oleh pasukan Aceh yang dipimpin oleh Malahayati. Karena kecakapannya itulah kemudian sultan mengangkatnya menjadi Laksamana. Selanjutnya atas izin sultan dan inisiatif dari Laksamana Malahayati, dibentuk sebuah pasukan yang terdiri dari para janda yang ditinggalkan oleh suaminya karena gugur dalam perang. Pasukan itu bernama Inong Balee di bawah pimpinan Laksamana Malahayati sendiri. Markas pasukan ini berada di Lam Kuta, Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar (Tim P3SKA, 1998 :14). Salah satu jejak perjuangan yang masih tersisa hingga kini adalah kompleks makam Malahayati yang berada di puncak bukit dan sebuah benteng yang disebut Benteng Inong Balee di tepi pantai Selat Malaka, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Melalui kedua situs tersebut yang akan dituangkan dalam tulisan ini diharapkan dapat melengkapi sejarah perjuangannya di bidang kebaharian. (balarmedan.wordpress.com).
 
      Kini Laksamana Malahayati hanya bisa dikenang dan dijadikan idola oleh sebagian orang, bahkan banyak nama jalan menggunakan namanya. Bahkan sebuah pelabuhan yang tidak jauh dari tempat peristirahatan terakhirnya juga digunakan dengan namanya. Pelabuhan Malahayati.
 
      Makam Laksamana Malahayati terletak di desa Lamreh, Mukim Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Jika ingin berziarah kemakam perempuan tangguh tersebut tidak sulit mencari makamnya. Jika ingin berziarah jaraktempuh dari Kota Banda Aceh sekitar 35 KM atau sekitar 30-40 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. 
 
      Ketika Anda sudah tiba di pelabuhan Malahayati, tepat di depan pintu masuk pelabuhan terpampang sebuah pamflet penunjuk arah menuju makam Laksamana Malahayati. Kira-kira sekitar 50 meter masuk jalan kecil, Anda akan mendapatkan sebuah komplek pemakaman yang di depankan sudah ada 3 buah pamflet.
 
      Makam Laksamana Malahayati terletak diatas bukit kecil, untuk menuju kesana pengunjung harus menaiki anak tangga yang sudah dibuat oleh pemerintah Aceh Besar. Di dalam komplek tersebut terdapat beberapa pohon kapas yang jika pengunjung perhatikan dengan teliti di pohon kapas tersebut akan terlihat tulisan Arab. 
 
      Di komplek pemakaman tersebut dikelilingi oleh ladang warga sekitar, Dan komplek makam Laksamana Hayati sudah dipagar dengan pagar besi. Berada di komplek ini terasa sangat nyaman dengan keteduhan pohon-pohon yang berada di sekitar komplek pemakaman. Ketika suddah tiba ditasa bukit setelah menaiki beberapa anak tangga. Tampak 3 buah makam yang sudah dipugar oleh pemerintah.
 
      Disana juga terdapat sebuah tugu untuk yang dibangun oleh pemerintah Aceh. 3 Makam tersebut dinyakini sebagai Makam keluarga Laksamana Malahayati, yaitu suami dan anak belian. Dua makam tersebut berbatu nisan dengan ukiran kaligrafi, dan satu lagi berbatu nisan kecil.

Komentar