Sumur Gumuling

Sumur Gumuling

Dua ratus tahun lalu, Sumur Gumuling adalah masjidnya raja-raja Yogyakarta. Sekarang, interiornya yang cantik jadi incaran turis.Di belakang Pasar Ngasem Yogyakarta, wisatawan akan menemukan loket masuk ke istana air Taman Sari.  Sebelum diserang Inggris dan beberapa bangunannya rubuh akibat gempa tahun 1867, Taman Sari adalah kolam pemandian yang sangat indah bagi permaisuri Yogyakarta. Sultan dan kerabat keraton kerap berkunjung untuk rekreasi dan mencari ketenangan.

Saat ini hanya beberapa bangunan di Taman Sari yang masih berdiri. Ada yang sudah dipugar, yang lain tampak seperti reruntuhan yang ditiban permukiman penduduk. Salah satu yang masih tersisa adalah Sumur Gumuling, bangunan yang terletak di sebuah lorong bawah tanah Taman Sari.

Sumur Gumuling berarsitektur Jawa-Portugis dan menyerupai teater melingkar dengan telaga buatan di tengah serta rongga pada kubahnya. Sesuai dengan namanya, gumuling yang dalam Jawa berarti berputar dalam lingkaran. Dan ada sebuah sumur di tengah bangunan.

Bangunan ini dulunya sebuah masjid bawah tanah. Filosofi di balik desainnya menarik, yakni hanya satu pintu masuk menuju Sumur Gumuling yang melambangkan bahwa manusia tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah.

Sumur Gumuling tak butuh pengeras suara, sebab atapnya yang bulat menciptakan ruang berakustik baik sehingga suara imam tetap bisa terdengar. Masjid terbagi menjadi dua lantai, bawah untuk jamaah perempuan dan atas untuk jamaah laki-laki. Empat tangga mengarah ke sebuah pelataran kecil, lalu satu tangga mengarah ke lantai dua. Kelimanya merupakan simbol dari rukun Islam, dengan satu tangga naik ke lantai atas mewakili rukun kelima yang berbunyi naik haji jika mampu.
Sumur gumuling jogja

Sekarang, masjid bersejarah ini menjadi salah satu destinasi wisata penting di Kota Gudeg Yogyakarta. Sebagian besar pengunjung menggunakannya sebagai ‘latar narsis’ atau spot foto Pre Wedding.

Untuk keluar dari Sumur Gemuling, wisatawan kembali melewati lorong-lorong gelap sama seperti saat akan masuk. Sesungguhnya lorong ini panjang sekali. Masyarakat meyakini bahwa dulunya lorong tersebut tembus sampai ke daerah Pantai Selatan Jawa, lebih tepatnya di Parangtritis. Sekarang jalan tembus tersebut sudah ditutup.

Komentar