4 Tempat Wisata di Indonesia yang Seharusnya Enggak Dijadiin Tempat Wisata Komersial!

4 Tempat Wisata Di Indonesia Yang Seharusnya Enggak Dijadiin Tempat Wisata Komersial!

      Jalan-jalan alias travelling memang mengasyikan. Menikmati alam bebas, mengunjungi spot-spot wisata yang hanya ada di brosur, sampai menemukan pengalaman baru, pastinya jadi tujuan ketika melakukan perjalanan wisata. Tak heran kalau banyak orang rela menghabiskan uang banyak demi liburan. Bahkan hasil studi dari TripBarometer dan Tripadvisor menyebutkan belakangan ini orang yang menambah anggaran perjalanan wisata dua jumlahnya kali lipat dari mereka yang mengurangi budgjet jalan-jalan. Jelas uang memainkan peran penting dalam urusan ‘foya-foya’ ini. Terlebih tak ada rumus baku berapa duit yang mesti disiapkan untuk menopang plesiran. Tiap orang punya standar dan gaya liburan masing-masing. Mereka yang bergaya backpacker pastinya mengeluarkan duit lebih sedikit dibanding liburan ala turis.

      Ke mana saja larinya anggaran liburan itu? Tentu banyak itemnya. Misalnya tiket pesawat, akomodasi, biaya makan, transportasi lokal, sampai membayar tiket masuk lokasi wisata. Nah, makin banyak lokasi wisata yang ingin dituju pastinya menambah bengkak pengeluaran.

      Pertanyaannya, apakah menikmati semua lokasi wisata itu perlu mengeluarkan duit? Berikut ini tempat wisata di Indonesia yang sebaiknya tak perlu bayar alias enggak dikomersialkan.

1. Tempat Ibadah

Okelah kalo bayar duit parkir, tapi kok di dalamnya tetap dimintain bayaran?

 

       Tempat ibadah bisa jadi tujuan wisata yang asyik, khususnya terkait dengan wisata rohani. Di Indonesia bertebaran tempat ibadah yang ikonik dari sisi arsitektur sekaligus punya cerita sejarah di belakangnya. Tempat ibadah itu berupa candi, masjid, klenteng, dan lain sebagainya. Sayangnya, tak semua tempat ibadah itu bisa dinikmati secara gratis. Ada yang mengutip sejumlah uang dengan alasan sebagai kontribusi perawatan tempat ibadah. Padahal, tempat ibadah adalah milik publik yang semustinya bisa dimasuki siapa saja. Dengan catatan, asal tetap menghormati lokasi itu sebagai tempat ibadah.

      Sebagai contoh Klenteng Sam Po Kong (Gedong Batu) di Semarang, Jawa Tengah. Tempat ibadah satu ini jadi favorit yang berkunjung ke Semarang. Klenteng tersebut punya sejarah panjang karena sebagai bukti kehadiran utusan Kekaisaran China ke Tanah Jawa. Nah, pengunjung yang hendak masuk kompleks klenteng diharuskan membayar untuk menebus tiket. Mungkin kalau sekadar mengeluarkan uang untuk parkir masih dimaklumi, tapi ini masih ada kutipan lagi. Kemudian siapkan lagi uang untuk membayar ‘doa’.

 

2. Kawasan Hutan yang Dikelola Perhutani

Tujuan wisata di hutan biar murah meriah bisa gagal kalo dipungut bayaran 

      Menikmati hutan adalah kemewahan bagi orang perkotaan, khususnya penghuni Jakarta. Jadi bukan hal yang mengherankan kalau hutan menjadi tujuan lokasi favorit bagi keluarga. Selain bisa menikmati alam bebas dan udara yang bersih, hutan juga menyediakan banyak bahan edukasi bagi anak-anak. Terlebih hutan menyediakan begitu banyak panorama yang indah. Pohon-pohon yang menjulang tinggi, hewan liar, dan sering kali ada air terjun, makin membuat orang betah berlama-lama di hutan.

      Di Indonesia sendiri, hutan yang ada dikelola negara dalam hal ini Perhutani. Alasannya jelas, hutan menyangkut hajat hidup orang banyak dan kelestarian ekosistem. Tapi kondisi alami hutan ini menarik minat sebagian pihak, dalam hal ini swasta, untuk mengelola yang ujung-ujungnya mengeruk keuntungan. Sebut saja obyek wisata alam yang dikelola Kantor Perhutani KPH Bogor yang membuat pihak swasta tertarik mengelolanya. Obyek wisata yang diincar antara lain Curug Cipamingkis, Curug Aca, Curug Ciherang, dan Curug Cisarua.

      Padahal, kawasan Perhutani adalah milik negara yang tak boleh dikomersialkan. Dikhawatirkan kawasan itu akan menjadi rusak lantaran diubah menjadi kawasan ekonomi.

 

3. Cagar Alam

Jangan cuma nuntut gratis aja masuk cagar alam, tapi jaga kebersihannya juga dong 

 

      Ingat bunyi Pasal 33 dalam UUD 1945 yang intinya bumi dan isinya di Indonesia itu dikelola untuk kemashalatan rakyat Indonesia. Terus, cagar alam kan termasuk kekayaan alam yang mustinya enggak perlu bayar untuk menikmatinya dong? Negeri ini sendiri punya banyak cagar alam yang rata-rata bagian dari taman nasional. Oh ya, Cagar alam adalah kawasan suaka alam karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.

      Sebut saja cagar alam di kawasan Gunung Gede, Jawa Barat, yang masuk dalam pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Boleh dibilang cagar alam di sana jadi tujuan utama warga Jakarta yang hendak melipir sejenak dari kebisingan kota. Udara yang bebas dari polusi, lingkungan yang sejuk, dan panorama yang serba hijau jadi obat mujarab menghilangkan stres. Tapi, untuk menikmati itu semua mesti ditebus dulu dengan lembaran rupiah. Istilah yang dipakai itu ‘retribusi’ yang konon dananya dipakai untuk kelestarian lingkungan.

      Mungkin sah-sah saja ‘alasan retribusi’ itu. Cuma kan perlu ditekankan kalau negara sudah mengalokasikan anggaran untuk pengelolaan cagar alam. Lalu, kenapa juga masih memungut duit dari pengunjung? Masalah jadi berbeda jika uang yang dikutip itu untuk alasan ‘kebersihan’. Nah, ini masalah mental dari pengunjung yang rata-rata kesadaran buang sampah pada tempatnya masih minim.

      Di sosial media banyak beredar foto-foto cagar alam yang ‘dirusak’ oleh banyaknya sampah. Kalau mau cagar alam gratis, yuk sadar diri jangan ‘mengotori’ alam dengan sampah-sampah apapun. Kasus ini terjadi di Cagar Alam Pulau Sempu. Setelah foto-foto keindahan Pulau Sempu ramai menghiasi sosial media, maka berbondonglah orang datang ke sana. Alhasil, kawasan yang dulunya damai, indah, dan hening jadi hiruk pikuk.

      Sedihnya lagi, cagar alam lantas  berubah menjadi destinasi wisata baru yang sangat menggiurkan bagi para pebisnis dengan menawarkan paket wisata ke Pulau Sempu. Duh, sudah kebayang berapa duit yang mesti dikeluarkan.

 

4. Waduk/Danau Buatan

Lagian, kenapa juga waduk dibuka jadi tempat wisata? Kalau rusak karena kebanyakan pengunjung yang ga bertanggungjawab, siapa yang rugi?

 

      Bendungan atau danau buatan juga bisa dimasukkan sebagai tujuan lokasi wisata. Misalnya saja Bendungan Jatiluhur atau Bendungan Kedungombo di Wonogiri. Keberadaan bendungan itu sendiri ditujukan sebagai sumber pembangkit listrik, pengelolaan air, sekaligus berfungsi untuk rekreasi.Patut disayangkan, menikmati danau buatan saja mesti membayar retribusi. Seperti di Bendungan Jatiluhur yang mesti membayar tarif masuk mulai Rp 5.000 per orang dan kendaraan Rp 10 ribu. Mungkin bagi sebagian orang uang itu kecil, cuma tetap saja merasa masgyul buat bayar. Toh, waduk itu bisa dinikmati tanpa harus bayar. Terlebih lagi, kemana duit penjualan karcis itu juga tak diketahui juntrungannya.

      Saat menetapkan destinasi wisata ke cagar alam, hutan, tempat ibadah, maupun waduk/bendungan, mau enggak mau siapkan anggaran untuk menebus tiket masuk atau restribusi. Sudah sulit menemukan lokasi wisata yang murni gratisan. Padahal kan tujuan berwisata ke lokasi itu selain dekat dan mudah dijangkau adalah lebih hemat ketimbang ke tempat lain. Misalnya saja melipir ke kawasan hutan di Bogor bisa jadi alternatif liburan lebih murah ketimbang menikmati wahana di kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Sayang, tujuan itu cuma angan-angan saja yak. Faktanya di lapangan di mana banyak destinasi wisata yang sebenarnya gratis tapi belakangan malah diduitin. Ketika sebagian pihak menilai keberadaan lokasi wisata itu bisa menguntungkan, langsung deh yang dipikirkan keuntungannya.

      Mereka ini bisa warga lokal maupun pihak swasta. Begitu ada destinasi wisata yang dulunya dianggap biasa-biasa saja tapi karena mampu menyedot perhatian turis, eh dikomersialkan.

 

Komentar